Don't Copy

Monday, March 14, 2011

Sten Gun

The Sten Gun

You wicked piece of vicious tin!
Call you a gun? Don't make me grin.
You're just a bloated piece of pipe.
You couldn't hit a hunk of tripe.
But when you're with me in the night,
I'll tell you pal, you're just alright!

Each day I wipe you free of dirt.
Your dratted corners tear my shirt.
I cuss at you and call you names,
You're much more trouble than my dames.
But boy, do I love to hear you yammer
When you 're spitting lead in a business manner.

You conceited pile of salvage junk.
I think this prowess talk is bunk.

Yet if I want a wall of lead
Thrown at some Jerry's head
It is to you I raise my hat;
You're a damn good pal...
You silly gat!

Ode to a Sten Gun by Gunner. S.N. Teed


British Sten gun adalah senjata jaman perang dunia kedua dan Perang Korea yang banyak digunakan oleh tentara Inggris dan Commonwealth. Menggunakan prinsip yang sangat unik. Hal ini disebabkan oleh lonjakan permintaan tentara dimasa perang dan minimnya pasokan metal dan biaya yang mengimbangi berputarnya perang dunia saat itu.

Dari kedua momok utama tersebut lahirlah ide untuk membuat senjata submacine-gun yang cukup handal dan murah serta mudah perawatannya. Yang dibidani oleh penggagas utama bernama Reginald Shepard bersama Harold Turpin dan Enfield. Oleh sebab itu diberi nama STEN kependekan dari Shepard Taupin ENfield.

Berat sekitar 7.1 pounds
Kaliber 9x19 Parabellum
Panjang laras 7.7 inches
Sistem action: Open-bolt Blowback
Muzzle velocity sekitar 1,190 ft/sec
Iron Sight: Fixed peep rear against post front.

Senjata jenis ini cocok untuk tactical jarak sangat dekat, misal urban-tactical. Dimana tembak menembak hanya berjarak dari pintu ke pintu lainnya. Jangan bicara accuracy terhadap senjata ini. Sangat tidak reliable dalam mode short burst. Tidak ubahnya dengan pistol yang mempunyai jarak effektif (ketepatan dan mematikan) tidak lebih dari 50 meter. Grouping tembakan juga lebih tersebar. Intinya adalah menghujani musuh dengan tembakan, sebagai suppressive-fire.

Bagaimanapun, senjata ini cukup bandel, murah produksi dan minim perawatan. Sehingga utilitasnya melebihi maksimal. Tidak heran senjata ini menjadi legendaris dan memiliki umur masa pakai yang cukup lama untuk ukuran sebuah senjata.

Sumber;http://hhsamosir.blogspot.com/search/label/senjata

Tuesday, November 23, 2010

M16 Infantry Rifle


  Siapa yang tidak kenal dengan senjata yang sering disebut dengan nama generik M16? Senjata ini sudah memasuki era Lima dasawarsa alias lima puluh tahun. Dan sudah di copy maupun di produksi oleh berbagai negara. Sebagai salah satu senjata legendaris dan modern military iconic ini, M16 sudah memasuki beberapa kali proses upgrade yang sesui dengan tuntutan jaman.





Bermula sekitar tahun 1953 hingga tahun 1958 US Departement of Defense mengadakan riset dengan nama "Project Salvo" untuk mengembangkan sebuah senjata yang ringan, dengan casing peluru berdasarkan select-fire, hi-velocity .22 caliber cartridge. Yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian bersama oleh Armalite, Remington dan Sierra-Bullets mengembangkan casing peluru baru dengan basis senapan buru Remington .222 maupun Remington Magnum cartridge.
Peluru jenis baru tersebut dengan klasifikasi caliber .223 Remington mempunyai metric designation 5.56x45mm.

Tujuan dari pengembangan tersebut mempunyai beberapa penekanan pokok, yaitu:

  • lebih ringan dari standar peluru Infantry sebelumnya 7.62x51mm NATO
  • mempunyai kecepatan yang lebih tinggi
  • mempunyai tingkat akurasi yang tinggi
Dari penelitian taktik tempur modern, jarak maksimum untuk chastity Infantry sekitar 800 yards. Dengan kata lain dalam medan pertempuran umumnya tembak menembak terjadi dibawah 800 yards. Selebihnya untuk efektifitas lebih menitik beratkan pada operasi Sniper. Juga, pengecilan kaliber dimaksudkan agar dalam long-range patrol, seorang tentara dengan bobot yang setara akan membawa quantitas peluru lebih banyak dibanding dengan jumlah peluru dengan kaliber yang besar. Sehingga dalam kondisi tempur, membawa jumlah amunisi lebih banyak berarti mempunyai daya serang yang cenderung dominan dan agresif.

Sekitar tahun 1964 US Air Force adalah satuan yang pertama kali memakai produksi senjata hasil riset oleh COLT setelah lisensi product dibeli dari Armalite, dengan kode AR-15 rifle. Sedangkan US Army membelinya dengan spesifikasi kode sebagai XM16-E1. Perbedaanya dengan spec AR-15 adalah XM16-E1 mempunyai fungsi "Forward-Assist" yaitu penggerakan secara manual bolt jika terjadi casing-jammed. Pada tanggal February 28 1967 XM16-E1 diberi nama resmi sebagai US Rifle 5.56 M16-A1 dengan spec:

  • Caliber: 5.56x45mm (.223 Remington)
  • Action gas operated, rotating bolt
  • Panjang total: 986 mm
  • Panjang laras: 508 mm
  • Berat kosong: 2.89 kg
  • Magazine: 20 rnds
  • Rate of fire: 650 - 750 rnds/min.
  • Muzzle velocity: 945 m/det
  • Maximum effective range: 460 m.
Masa perang Vietnamlah yang melambungkan senjata ini bermula dari kontroversial hingga menjadi icon international. Diawali dengan kekecewaan para tentara dan marinir di perang Vietnam akibat seringnya "jammed" serta tidak handal seperti nemesis-nya AK47 di perang hutan tropis, mengakibatkan ejekan semakin kental kepada "plastic Black Rifle" tersebut. Mulai dengan nama "Mattel P.O.S (piece of sh?t)" hingga "Mickey Mouse plastic gun".
Juga para militer Traditionalist yang masih mengagungkan kaliber 7.62 menganggap kaliber 5.56 sebagai senjata mainan setara senapan angin, seperti dalam kalimat: "This BB-gun ain't hurt nobody..!"
Padahal letak kesalahannya melulu pada penggantian powder spec dari Dupont IMR menjadi standar ball powder, yang jika tidak sering dibersihkan akan menjadi jammed akibat fouling residu. Juga akibat kesalahan pabrikan yang mempromosikan sebagai "low maintenance" sehingga salah kaprah.

Beberapa tahun kemudian mulai dikembangkan M16A1-E1 dengan menambah cleaning-kit serta melapisi barrel, chamber dan bolt dengan chrome agar lebih corrosion resistant. Juga penambahan jumlah peluru dari 20 menjadi 30 rounds agar menyamai standar Soviet/Chinese AK47 dilapangan. Demikian juga dalam balistik yang dikembangkan oleh FN Belgia, sehingga menggeser balistik M193 yang sering bermasalah dengan SS109/55.6mm NATO. Perbedaanya adalah dengan menurunkan kecepatan muzzle agar stabil dalam jarak lebih jauh dengan merubah rifling (twist pada barrel) dari 1:12 menjadi 1:7 (1 kali rotasi peluru di barrel sepanjang 7 inches). Rear-sights juga mulai dibenahi dengan adjustable range dan windage. Merekonstruksi full-auto burst dengan 3-burst agar menghemat peluru. Dari pembenahan M16A1-E1 ini sejak tahun 1981 diberi nama resmi US Rifle 5.56 M16-A2.

  • Caliber: 5.56x45mm (.223 Remington)
  • Action gas operated, rotating bolt
  • Panjang total: 1006 mm
  • Panjang laras: 508 mm
  • Berat kosong: 3.77 kg
  • Magazine: 30 rnds
  • Rate of fire: 800 rnds/min.
  • Muzzle velocity: 975 m/det
  • Maximum effective range: 550 m.
Selanjutnya pengembangan tidak terlalu mendasar, dengan kode M16-A3 dan M16-A4, dengan menambahkan Picantinny rail pada receiver-nya agar dapat dijadikan modular dengan penambahan M203 peluncur granat atau tambahan piranti tempur malam Night-IR atau Optics.
M16-A4 lebih menyerupai spec M16-A2 sedangkan M16-A3 memiliki Full-Auto burst dibanding 3-burst.

Sebagai Marinir saya menyukai masing kaliber dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Walaupun dalam anggapan saya "size Does matter", berdasarkan pengalaman saya memakai kaliber peluru mulai dari 5.56, 7.62 dan 12.7 (.50cal). Bagaimanapun 5.56 NATO cukup handal dalam perang asal cara membersihkan senjata merupakan "ritual". Toh untuk jarak jauh dengan senapan Sniper-Rifle yang berdasarkan spec 7.62 NATO M14 masih merupakan primadona yang saat ini belum dapat digantikan oleh senjata apapun dalam hal akurasi dan erginomis senjata.
Semasa tugas di Afghanistan dan Iraq saya memilih untuk mengandalkan senjata yang telah terbukti ampuh dalam bidang masing masing yaitu M16-A3, M40-A3, dan untuk side-arm saya lebih memilih pistol M1911 .45 ACP buatan Kimber TLE II dibandingkan M9 9mm Berreta.

Semper Fi,


Sumber;
http://hhsamosir.blogspot.com/2008/04/m16-infantry-rifle.html#links

Munisi berkaliber kecil

                                                               


    Setiap angkatan bersenjata memerlukan pasokan munisi. Salah satu dari fungsi strategis yang mempunyai peran sangat penting dalam konteks pertahanan nasional. Oleh karena itu pemilihan dan penggunaannya wajib merupakan fokus utama. Pilihan yang KELIRU dalam penggunaan munisi tanpa memperhatikan spesifikasi standar teknis, akan sangat berpengaruh negatif dalam konfrontasi lapangan.

    Pemakaian senjata tidak terlepas dari alokasi munisi yang disesuaikan dengan sasaran penggunaan, begitu pula sebaliknya. Munisi kaliber kecil yang sering disebut Small Arms Ammunition (SAA) yang kita kenal sekarang ini banyak dipergunakan di lingkungan Infantry dewasa ini adalah kaliber 9 mm, 7,62 mm dan 5,56 mm dan 5.45 mm. Dengan majunya industri strategis di Indonesia, kaliber 9 mm dapat dibuat di PT. Pindad, sedangkan munisi jenis 7,62 mm FMJ AP dan 5,56 mm FMJ AP maupun 5.45 mm FMJ AP sampai sekarang masih merupakan barang suplai, tergantung pada pasokan luar negeri.

   Di lingkungan Dephan/TNI munisi jenis AP merupakan barang langka boleh dikatakan masih merupakan barang percontohan. Keterbatasan ini dapat dibuktikan di gudang persediaan munisi, latihan militer pada Satuan-satuan Tempur dan laboratorium atau uji coba di Dephan/TNI maupun di berbagai satuan baik Darat, Laut, Udara, maupun Kepolisian.
Berdasarkan strukturnya munisi dapat dibagi menjadi:


1.peluru (Proyektil)
2.selongsong (Cartridge Case)
3.mesiu dorong (Propellant)
4.rim (Rim)
5.penggalak (Primer Igniter).



   Secara umum muni
si dibagi menjadi munisi ringan/kaliber kecil (MKK) yang dapat dipakai pada senjata berdiameter lubang laras maksimal 12,7 mm (kaliber .50) dan munisi berat/munisi kaliber besar dipakai pada senjata berdiameter lubang laras diatas 12,7 mm, sedangkan menurut kaliber (diameter) munisi yang umumnya banyak dipakai dibagi menjadi 9 mm, 7,62 mm dan 5,56 mm.
Menurut jenis/tipenya antara lain FMJ (Full Metal Jacket), LRN (Long Round Nose), JSP (Jacketet Soft Point), JHP (Jacketet Hollow Point) dan AP (Amour Piercing). Namun demikian munisi yang digunakan harus memiliki persyaratan baku yaitu daya hancur tinggi, tidak peka terhadap pukulan atau tumbukan, tidak mudah terbakar, dapat disimpan dengan stabil, tidak menyerap air, dan tidak reaktif terhadap logam.


   Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apa dan bagaimana pemilihan munisi kaliber kecil (small caliber) dipandang dari sudut kualitas. Hakekat munisi kaliber kecil sebagai alat pendukung strategis, yaitu agar mampu memepertahankan daerah operasi, serta aktif dalam upaya pembersihan suatu daerah rawan. Munisi harus tepat guna dan efesien, artinya jumlah cukup serta sesuai dengan jenis senjata dalam operasi yang dilaksanakan.

    Sebenarnya mudah dipahami bahwa penggunaan munisi tidaklah sama satu sama lain. Hal ini harus disesuaikan dengan senjata, diameter muzzle (kaliber), lokasi, jarak sasaran, tujuan serta siapa lawan yang dihadapi. Untuk tuntutan yang bervariasi ini tergantung pada kecepatan amunisi dan jenis/tipe serta kestabilan psikologis seorang prajurit.
Kaliber ini dapat dibagi dalam beberapa proporsional seperti:

  1. cal .22 Long Rifle (.22LR) cartridge biasanya dipakai untuk latihan tembak tepat.
  2. cal .22 rimfire (kebanyakan dipakai untuk pistol dan revolvers selain senapan),
  3. cal 9 mm sering disebut 9x19mm Parabellum round. Sering dipakai untuk pistol Auto maupun senapan mesin.
  4. cal .30 merupakan hasil silang antara cal.45 dengan cal.30-06
  5. cal .300 Whisper subsonic - dengan necking-up cal.221 Remington Firebal menggunakan 240-grain (16 g) Sierra MatchKing, memiliki kekuatan cal.45 ACP, dengan luas pnampang kecil akan berakibat meningkatkan armor penetration.
  6. cal .300 Winchester Magnum - jenis peluru sniping jarak menengah/jauh yang sering dipakai US Navy SEALS dan German GSG.
  7. cal .338 Lapua (8.6 × 70 mm atau 8.58 × 71 mm) munisi sniping jarak jauh anti-materiel.
  8. cal .357 Magnum - dengan memanjangkan casing peluru cal.38 Special.
  9. cal .357 SIG - didesign untuk self-loading pistol setara cal .40 S&W
  10. cal .376 Steyr - dengan memendekkan selongsong 9.3 × 64mm Brenneke.
  11. cal. 40 S&W maupun cal. 40 S&W Subsonic.
  12. cal .44 Magnum - High powered pistol ammo.
  13. cal .440 CorBon Magnum - jenis baru untuk mengungguli cal.50 AE dalam penetration.
  14. cal .45 ACP - standard US pistol selama ratusan tahun.
  15. cal .454 Casull - A very high powered pistol cartridge
  16. cal .50 Action Express (AE) - A very high powered pistol cartridge, melebihi cal.44 Magnum dalam menembus body-armor.
  17. 5.45 × 18 mm Soviet - Setara dengan cal.22 rimfire.
  18. 5.45 × 39 mm Soviet (AK-74)- saingan caliber 5.56 × 45 mm NATO cartridge.
  19. 5.56x45mm NATO - (M16) Adaptasi dari cal.223 Remington yang akhirnya menjadi munisi standar US military sejak 1960.
  20. 7.62x39mm (AK47/SKS) - Munisi standar blok Timur
  21. 7.62x51 mm NATO
  22. 9 × 19 mm Parabellum adalah munisi standar NATO.
  23. 9 × 21 mm Russian - munisi standar Makarov/PMM.
  24. cal.50 BMG, 12.7 × 99 × mm BMG (.50 BMG) - seukuran dengan munisi penangkis serangan udara.
   Kecepatan munisi dihitung berdasarkan seberapa cepat proyektil meluncur di atas sensor kromatograf sebagai akibat dorongan setelah terjadi reaksi pembakaran di dalam kelongsong (cartidge case). Energi yang diperlukan untuk melepaskan proyektil dari kelongsong ditentukan oleh kuantitas isian dorong (Propellant) dalam jumlah grams yang telah diberikan. Kecepatan dan penggunaan munisi dapat diklasifikasikan sebagai level I, II A, II, III A, III dan IV. Tingkatan level ini berkaitan dengan penggunaan dan kualitas munisi.

    Sesuai perkembangan teknologi akan menimbulkan perubahan standar baku munisi. Pengaruh ini dapat dirasakan dengan adanya perubahan pada NIJ 01.01.03 menjadi NIJ.01.01.04 pada bulan September 2000. Perubahan tersebut terjadi pada:
  1. Level I, semula 22.cal LRHV Lead dengan kecepatan munisi 320 m/dt (1050 ft/s) menjadi 22 caliber LR RN dengan kecepatan 322 m/dt (1055 ft/s), begitu pula 38 special RN Lead dengan kecepatan 259 m/dt (850 ft/s) menjadi 380 ACP FMJ RN dengan kecepatan 322 m/dt (850 ft/s).
  2. Level II A, semula 357 Magnum JSP dengan kecepatan 381 m/dt (1250 ft/s) menjadi 40 S&W FMJ dengan kecepatan 322 m/dt (1055 ft/s), begitu pula 9 mm FMJ dengan kecepatan 322 m/dt (10,90 ft/s) menjadi 9 mm FMJ RN dengan kecepatan 341 m/dt (1120 ft/s).
  3. Level II, semula 357 Magnum JSP dengan kecepatan 425 m/dt (1395 ft/s) menjadi 357 Magnum JSP dengan kecepatan 436 m/dt (1430 ft/s), begitu pula 9 mm FMJ dengan kecepatan 358 m/dt (1175 ft/s) menjadi 9 mm FMJ RN dengan kecepatan 367 m/dt (1205 ft/s).
  4. Level III A, semula 44 Magnum Lead SWC Gas Checked dengan kecepatan 436 m/dt ( 1430 ft/s) menjadi 44 Magnum JHP dengan kecepatan 436 m/dt (1430 ft/s), Begitu pula dengan 9 mm FMJ dengan kecepatan 436 m/dt (1430 ft/s) menjadi 9 mm FMJ RN dengan kecepatan 436 m/dt (1430 ft/s).
  5. Kecepatan di atas level III dan level IV untuk senapan tidak mengalami perubahan.
  6. Jarak jangkau munisi kaliber kecil tergantung dari kaliber dan propellant, terutama pada kecepatan yang dimiliki munisi tersebut. Semakin tinggi level sebuah munisi akan berbanding lurus dengan kecepatannya. Untuk mengukur seberapa panjang jangkauan suatu munisi dipergunakan rumus S = V x t, dimana S merupakan jarak tempuh (meter), V merupakan kecepatan (m/dt) dan t merupakan waktu (detik). Untuk mengetahui jarak suatu munisi, hanya mengetahui berapa kecepatannya, karena (t) waktu dianggap konstan. Mengapa hal ini perlu diketahui prajurit di lapangan, karena menyangkut jangkauan sasaran yang harus dicapai dan untuk mengadakan Triangulasi lokasi jarak posisi musuh. Jarak efektif sebuah munisi diperlukan jarak tembak kira-kira 5-10 m bila menggunakan pistol, sedangkan jarak 15-25 m apabila menggunakan senapan dengan ketentuan V50 m/dt artinya kecepatan proyektil dimana kemungkinan penetrasi dan non penetrasi 50 %.

    Standar kecepatan munisi ditetapkan oleh NIJ Standard 01.01.03 direvisi oleh National Law Enforcement and Correction Technology Centre (NLECTC) bekerja sama dengan The Office of Law Enforcement Standard (OLES) dan The Law Enforcement and Correction Technology Advisory Council (LECTAL) menjadi NIJ standard 01.01.04 adalah sebagai berikut :
Level I digunakan untuk munisi yang mempunyai kecepatan minimal 322 m/dt ( 1055 ft/s) munisi jenis ini adalah 38 ACP FMJ RN (Round Nose), sedangkan untuk 22 LRN (Long Round Nose) minimal 329 m/dt (1050 ft/s).
Level II A digunakan munisi yang mempunyai kecepatan minimal 341 m/dt (1120 ft/s) munisi jenis ini adalah 9 mm FMJ RN (Round Nose), untuk 44 S & W FMJ (Full Metal Jacketed) minimal 332 m/dt (1055 ft/s).
Level II digunakan munisi yang mempunyai kecepatan minimal 367 m/dt (1430 ft/s) munisi jenis ini adalah 9 mm FMJ RN (Round Nose) untuk 357 Magnum JSP (Jacketed Soft Point) minimal 430 m/dt (1430 ft/s).
Level III A digunakan munisi yang mempunyai kecepatan minimal 436 m/dt ( 1430 ft/s) munisi jenis ini adalah 9 mm FMJ RN, untuk 44 Magnum JHP (Jacketed Hallow Point) minimal 436 m/dt (1430 ft/s).
Level III digunakan untuk munisi yang mempunyai kecepatan minimal 838 m/dt ( 2740 ft/s) munisi jenis ini adalah 7,62 mm NATO FMJ (Full Metal Jacketed).
Level IV digunakan untuk munisi yang mempunyai kecepatan minimal 869 m/dt (2850 ft/s) munisi jenis ini adalah .30 kaliber M2 AP (Amor Piercing).


    Selain dari faktor kecepatan munisi, masih terdapat faktor yang sangat menentukan kualitas dari munisi. Faktor yang dimaksud adalah tipe/jenis proyektil dari munisi itu sendiri. Perlu dipahami bahwa ball-peluru (proyektil) merupakan fungsi yang utama dari penggunaan munisi dalam senjata kaliber kecil. Hal ini berkaitan erat dengan daya lumpuh, daya tembus dan daya hancur.

   Jenis pengujian yang banyak digunakan Dephan/TNI adalah jenis FMJ dan AP. Lalu bagaimanakah kualitas munisi dilingkungan Dephan/TNI dilihat dari segi kuantitas dan kualitas?

   Dari segi kuantitas munisi di lingkungan Dephan/TNI kaliber 9 mm FMJ RN cukup terenuhi, hal ini karena produksi munisi jenis ini didukung oleh PT. PINDAD.

Kalau kita lakukan uji kualitas untuk mengetahui kecepatan munisi, diperlukan uji tembak sebanyak 20 kali terhadap kaliber 9 mm, 7,62 mm dan 5,56 mm.

    Kecepatan rata-rata 9 mm adalah ì
= 357,75 m/dt dengan standar deviasi è = 10,2 m/dt, maka range kecepatan munisi 347,55 – 367,95 m/dt. Kesimpulannya Dephan/TNI munisi 9 mm FMJ di atas standar, NAMUN apabila dibandingkan dengan standar NIJ.01.01.04 masih digolongkan level II A yaitu min kecepatan 322 m/dt, sedangkan level II mempunyai batasan minimal 367 m/dt.
Padahal di lingkungan Dephan/TNI standar 325 – 355 m/dt dijadikan standar pengujian level III A ke bawah, yang seharusnya menggunakan standar 436 m/dt.


    Kecepatan rata-rata 7,62 mm adalah ì = 677,48 m/dt dengan è = 6,06 m/dt maka rangenya 671,42 – 683,54 m/dt. Standar level IV di lingkungan Dephan/TNI 670 – 730 m/dt. Dilihat dari standar Dephan/TNI munisi kaliber 7,62 mm ì = 677,48 m/dt yang ditetapkan ini masih dibawah standar NIJ baik untuk level IV yang minimal kecepatannya 869 m/dt dan level III yang min kecepatannya 838 m/dt.
Kecepatan rata-rata kaliber 5,56 mm ì= 917,98 m/dt dengan è =12,28 maka range kecepatan 905 – 930 m/dt. Standar level IV di lingkungan Dephan/TNI 900 – 960 m/dt. Dilihat dari standar TNI munisi kaliber 5,56 mm masih relevan, begitu pula dengan NIJ standar yaitu masih di atas level IV.

    Kalau kita berani menengok wacana diatas, sebaiknya Dephan/TNI melakukan revisi dan revitalisasi standar munisi yang disesuaikan dengan perkembangan dewasa ini. Alasan yang mendasar yang perlu diingat adalah perubahan tehnologi tempur dewasa ini telah merubah kualitas alutsista. Sehingga seyogyanya standar kualitas munisi juga ditingkatkan guna menjawab kesenjangan tersebut. Tidak dilupakan, juga standarisasi munisi yang dapat dipergunakan silang (interchangeable) yang bertujuan efektifitas dan ekonomis. Karena jika terlalu banyak ragam varian munisi dari berbagai jenis senjata yang dimiliki hanya akan berakibat repotnya suplai perbekalan yang berakhir pada menurunnya tingkat agilitas dan power suatu angkatan bersenjata.


Sumber:
http://hhsamosir.blogspot.com/2008/07/munisi-berkaliber-kecil.html#links

KRISS sub-machine Gun

Beberapa hari lalu saya di beri sample untuk mencoba senjata serbu jenis sub-machine gun. Senjata jenis ini memang mutlak diperlukan untuk room-clearing technique. Dari berbagai komponen yang disediakan akan saya bandingkan kegunaan serta effektifitasnya secara seksama. Beberapa senjata tersebut adalah Heckler & Koch (HK) MP-5 versi US Navy yang memakai kode "N" yaitu dengan tambahan Titanium dan parkerized agar lebih tahan karat. seperti MP5-N maupun yang memakai peredam MP5-SD3. Yang kedua adalah seperti biasa UZI sub-machine gun. Serta yang terakhir adalah KRISS super V system.

Sedikit catatan: KRISS ternyata diambil dari nama KERIS yaitu sejenis senjata tajam berliuk seperti ular dari Indonesia yang biasanya dianggap sebagai pusaka.

Jika dilihat secara breakdown maka perbandingan dapat dibagi dalam beberapa pokok sebagai berikut:

1. UZI-SMG produksi IMI Israel, FN Herstal maupun Norinco














  • Ammo: 9mm x 19 Parabellum
  • Operation: Blowback firing Open or Closed Bolt Position.
  • Mode: Automatic or Semi-Auto.
  • Riffling: 4 grooves, atau 1 putaran penuh tiap 254mm (twist).
  • Kec. Muzzle: 375 ~ 400 m/det
  • Rates of Fire 600 rds/min
  • Panjang laras: 260 UZI, 197 mini UZI
Kelemahan dari UZI adalah dari operasi sistem Open-Bolt design yang sangat mempengaruhi akurasi tembakan. Sehingga grouping tembakan untuk jarak menengah-pendek akan terlihat menyebar. Oleh sebab itu UZI hanya cocok untuk tembakan jarak dekat.

2. MP5 produksi Heckler & Koch Germany












  • Ammo: 9mm x 19 Parabellum
  • Operation: Recoil operated, Delayed roller locked-bolt. (Retarded blow back)
  • Mode: Automatic or Semi-Auto.
  • Riffling: 6 grooves right hand twist.
  • Kec. Muzzle: 400 m/det (1312 ft/s)
  • Rates of Fire 800 rds/min
  • Panjang laras: 220mm


Senjata jenis ini memang banyak dipakai oleh banyak angkatan bersenjata di berbagai negara, termasuk Indonesia. Terutama dipakai oleh beberapa pasukan khusus yang cukup terkenal. Memang secara utility merupakan senjata standar room-clearing bagi pasukan khusus seperti Navy SEALs, maupun pasukan pengawal VVIP serta kepala negara. Hanya ada sedikit kelemahan senjata ini, yaitu kurangnya stopping power dalam melaksanakan operasi. Padahal untuk light infantry yang memiliki mobilitas tinggi, ketepatan menembak merupakan proyeksi stopping power yang cukup dominan yang sangat kentara.

Dari dua senjata diatas, semuanya memiliki kaliber 9mm Para. Untuk senjata yang ketiga mempunyai kaliber lebih besar yaitu cal .45 ACP, yang secara konotatif setara dengan senapan mesin Thompson era WW2. Kaliber 45 memang sangat sulit dikendalikan apalagi jika dipakai dalam mode Auto maupun Semi-Auto. Hal ini akibat energi tolak yang cukup ter-akumulatif hingga mempengaruhi efisiensi akurasi.

Tetapi hal ini dapat dijawab oleh senjata model baru KRISS super V system. KRISS merupakan nama yang diberikan dengan mengadopsi nama senjata pusaka dari Indonesia yang berliuk liuk layaknya ular naga yang sering disebut KERIS, buatan para Mpu sakti jaman dahulu.
Yang ditawarkan sangat berseberangan dengan dictum Automatic Weapon secara tradisional yaitu: Terlalu berat, terlalu banyak moving-parts, terlalu sulit maintain tembakan, menghasilkan unnecessary level of recoil dan muzzle climb.
Sebaliknya KRISS membuat re-directing recoil energi yang biasanya horizontal menjadi tekanan vertikal. Kemudian dengan adanya tekanan ini mengaktifkan counter balancing-mass untuk menyerap hentakan. Sehingga yang terjadi adalah less recoil yang berakibat operator dapat melakukan tembakan secara prima.

3. KRISS super V XSMG system produksi T.D.I (US)









  • Ammo: .45 ACP
  • Operation: V system delayed blowback
  • Mode: Automatic or Semi-Auto, Single
  • Riffling: N/A
  • Kec. Muzzle: 375 m/det
  • Rates of Fire 800 - 1100 rds/min
  • Panjang laras: 5.5 inches





Dari pengalaman dengan memakai KRISS memang recoil terasa sangat "lembut" dibanding dengan recoil kaliber 9mm. Disamping itu grouping tembakan sangat sempurna. Dua tembakan dapat menjatuhkan sasaran baja secara telak dengan jarak projektil 3 cm antara dua tembakan tersebut. Demikian juga jika memakai Full_Auto burst.

Saya pribadi menyukai tehnik operasi senjata ini. Disamping itu, senjata juga dilengkapi dengan surefire flashlight tepat diatas laras yang dapat dipakai operator dalam kegelapan malam. Forward grip, juga mantap. Tanpa ada rasa licin dipermukaan metal tersebut, seandainya telapak tangan dipenuhi keringat. Secara keseluruhan, walaupun senjata ini masih dalam tahap awal pengembangan, saya sudah jatuh-cinta. Mengingat patokan yang saya yakini dalam CQB dan room-clearing sudah tercapai yaitu dalam hal stopping power, agility, ergonomics, serta konstruksinya yang handal.

Semper Fi,


 Sumber;
 http://hhsamosir.blogspot.com/2008/06/kriss-sub-machine-gun.html#links

Hand Gun: size Does matter

M1911 adalah model yang sering disebut "old reliable" atau "old yel" merupakan senjata yang telah terbukti handal di 5 perang besar. Sebut saja WW1, WW2, Korean war, Vietnam war dan terakhir di Iraq/Afghan war. Dari beberapa perang besar tersebut membuktikan bahwa senjata dengan sistem ini ibarat manusia memang telah berusia sangat lanjut, yaitu dalam tiga tahun mendatang genap berusia 100 tahun. Tetapi masih merupakan work-horse untuk side-arm bagi pasukan pemukul reaksi cepat di garis depan.

Saat ini di US military, yang mempunyai standar pistol M9 Beretta yang berkaliber 9mm. Diadopsi dari senjata genggam buatan Beretta 92
.
  • Caliber: 9 ×19 mm NATO FMJ (Full Metal Jacketed)
  • Panjang: 8.54" (217 mm)
  • Panjang Barrel: 4.92" (125 mm)
  • Berat: 2.1 lb (unloaded); 2.56 lb (1.145 kg)
  • Kapasitas peluru: 15 + 1
  • Magazen: 15 round box
  • Jenis mekanisme tembak: DA/SA
  • Kecepatan muzzle: 1160 ft/s (353 m/s)
  • Safeties: Ambidextrous manual safety/de-cocker
  • Sights: Blade front dengan Notch rear
  • Max Effective Range: 60 m




Hanya saja masalahnya adalah, praktik di medan tempur justru mendiktekan bahwa yang dibutuhkan secara mutlak adalah "Stopping power". Terutama dengan taktik perang kota atau disebut MOUT (Military Operation on Urban Terrain), yang jarak tempur justru tidak lebih dari 50 meter dari satu pintu ke pintu lain, maka dibutuhkan suatu side-arm yang cukup terpercaya. Dimana dengan dua atau lebih tembakan ke arah center-mass akan menjatuhkan oposan (musuh) secara prima. Itu sebabnya mengapa saat ini, para operator pasukan khusus US Marines kembali ke konsep lama yaitu dengan merevitalisasi "old reliable" .45 cal M1911-A1

Banyak Pro dan Kontra antara pemilihan caliber atas side-arm ini. Untuk kalangan yang progressive mereka cenderung memilih M9 Beretta karena dengan beberapa alasan yang cukup kuat argumentasinya. Yaitu:

  1. Dapat membawa peluru lebih banyak
  2. Mempunyai muzzle velocity yang tinggi
  3. Standar tempur amunisi anggota NATO sehingga melimpah
  4. Mempunyai jarak effektif lebih dari .45 cal (M1911A1)
  5. Mempunyai tingkat presisi lebih dari .45 cal (M1911A1).
Jika kita bandingkan dengan alasan diatas maka M1911A1 adalah kebalikan dari itu semua, kecuali nomor 5 yang sebenarnya tergantung dari kemampuan operator itu sendiri. US Marines hingga saat ini merupakan cabang militer US yang menerapkan standar kemampuan menembak yang tertinggi bagi seluruh Marinir tanpa kecuali, mengingat bahwa US Marine adalah "First and Foremost, a Rifleman". Tetapi yang utama dari kelima faktor diatas hanya ada satu keunggulan mutlak M1911A1 yaitu terletak pada STOPPING POWER.

Dalam hemat saya setiap anggota US Marines sehubungan tentang senjata adalah murni Traditionalists. Artinya, efektivitas dalam suppressive-fire tergantung dengan besar kekuatan senjata. Sehingga jumlah pasukan boleh relatif kecil agar effisien tetapi daya pukul harus maksimal. Lebih jauh, saya menganggap diri saya adalah "old-school" terutama dalam hal senjata. Size DOES matter, bigger gun means business.

Dari pengalaman saya selama beberapa operasi khusus terutama di pegunungan Afghan dan gurun Iraq, dalam menjalankan taktik MOUT di perkotaan, saya selalu memakai senjata .45 cal modifikasi baru buatan Kimber Pro.

Sekali lagi, didalam kondisi jarak tembak effektif di ruang sempit, hand-gun merupakan senjata yang handal untuk operasi gerak cepat seperti room-clearing. Biasanya oposan (musuh) memakai AK47 yang sedikit menurunkan kecepatan reaksi tembak. Perbedaan seper-sekian detik inilah yang ditangan para professional merupakan advantage edge untuk menjatuhkan lawan. Sehingga penekanannya sekarang adalah tehnik dengan satu tembakan harus merubuhkan lawan secara prima tanpa memberi kesempatan lawan untuk membalas tembakan. Seperti dictum US Marine "One shot, one kill"

M9 Beretta memang mempunyai kapasitas peluru lebih, kecepatan muzzle tinggi sehingga menjamin ketepatan tembakan dalam jarak tembak effektif. Tetapi ada efek-samping yang tidak diperhitungkan selama ini, yaitu oposan (musuh) tidak langsung immobile saat ditembak, sekalipun ditembak hingga tiga kali ke arah critical center-mass.
Karena kecepatan peluru yang tinggi, momen energi menjadi terkonsentrasi pada laju percepatan peluru. Sehingga peluru menembus tubuh oposan (over penetration). Yang akan memungkinkan reaksi lawan untuk membalas tembakan sebelum immobile secara prima.

Berbeda dengan peluru pistol berkaliber besar seperti .357cal Magnum, .40cal S&W ataupun .45cal ACP cukup berpengaruh dalam menentukan immobilitas lawan dengan kurang dari tiga tembakan ke arah critical center-mass. Melulu akibat momen energi yang dihasilkan akibat tingginya power dengan kecepatan yang relatif rendah, akan mengakibatkan Wound capacity (robekan tissue danging) yang tinggi. Sehingga dengan satu atau dua tembakan praktis akan membuat musuh immobile secara prima.

Dalam pandangan saya, inilah salah satu kunci utama dalam tehnik tempur modern yang bersifat fluid dan cepat. Karena perimbangan secara matematis diatas kertas berondongan tembakan Infantry service Rifle semacam AK47 yang berpeluru 7.62x39 atau setara .30 cal ini bukanlah lawan seimbang dengan pistol. Apalagi dengan pistol berkaliber 9mm semacam Beretta. Tetapi dilawan dengan kelincahan gerak operator dan pistol berkaliber besar yang dapat menjamin tembakan yang berakibat immobilitas musuh secara permanen dan relatif cepat, setidaknya menyamakan perimbangan atau bahkan melebihi oposan dengan koordinasi operator yang handal.

Semper Fi,


DISCLAIMER: Paparan ini ditujukan sebagai perbandingan senjata dalam konsep Militer berdasarkan pengalaman penulis. Bukan sebagai sarana promosi, literasi tindakan kekerasan, dsb. Penulis tidak bertanggung jawab jika paparan ini digunakan sebagai sarana tindak kejahatan. Reader discretion is strongly advised.

Sumber;
http://hhsamosir.blogspot.com/2008/05/hand-gun-size-does-matter_12.html#links

Military Shotgun


Militer sejak jaman dulu hingga kini, secara tidak sadar menerapkan pameo: "The bigger our gun, the merrier". Bahkan ada istilah lain yang bukan hanya dipergunjingkan antar kaum wanita, tetapi juga di kalangan Marinir US yaitu: "Size DOES matter". Well... setidaknya hal ini menggambarkan bahwa dalam prinsip CQB (Close Quarter Battle) atau yang disebut perang jarak dekat ini memang membutuhkan senjata yang dapat digunakan untuk supressive fire serta mudah dan cepat dibawa oleh Light Infantry unit maupun special operators.

Secara harafiah dalam istilah marinir, CQB dalam perang kota yang istilahnya adalah MOUT (Military Operation on Urban Terrain) mendiktekan bahwa serangan utama adalah breeching technique. Para komandan lapangan (field-grader) akan memberikan perhatian utama pada fase ini. Perlu diingat bahwa selayaknya bangunan theory, breaching technique adalah batu tumpuan bagi pengembangan serangan selanjutnya. Efektif tidaknya suatu serangan ditentukan oleh breaching process ini. 


                                                                        Binelli M3


 
                                                                        Binelli M4


Shotgun sudah lama digunakan untuk memberikan suppressive fire terhadap posisi oposan. Juga merupakan senjata unggulan dalam melakukan tehnik SOSR (Suppress, Obscure, Secure and Reduce). Karena efek yang dihasilkan bukan hanya efek strategis tetapi juga efek psikologis bagi oposan jika kita memiliki senjata ini dalam penyerbuan. Tidak ada senjata yang lebih efektif selain shotgun dalam konfrontasi jarak dekat seperti dari pintu ke pintu.

Perkembangan dalam penggunaan Shotgun ini juga tidak hanya di militer tetapi juga dalam kehidupan sipil. Seperti banyak diadopsi oleh dinas Kepolisian daerah, State Troopers maupun US Marshal. Terlebih bagi kepolisian daerah juga dipergunakan sebagai "riot gun" yang dapat mengaplikasikan perangkat yang "less lethal". Sebagai contoh kasus, dapat kita bandingkan dengan dinas kepolisian Los Angeles maupun San Diego (LAPD & SDPD).

Kelemahan dan kelebihan shotgun terletak pada veritas munisi yang dipakai. Mulai dari munisi berburu (slugs), flares hingga 12 gauge. Munisi tempur standar bagi shotgun adalah 00-Buck, M-1030 Breaching rounds, FRAG-12 (USMC), M-1012, M-1013 less-lethal, Joint Non-Lethal Warning Munition (JNLWM), XM-104 Non-lethal bursting hand granade.
Jadi dilihat dari spektrum munisi diatas, dimedan tempur senjata ini mempunyai berbagai role seperti:

  1. Offensive weapon
  2. breaching weapon
  3. less-lethal weapon applicator.
Sehingga para operator senjata ini wajib memiliki ketrampilan dan latihan yang intens dalam mencermati tugas yang akan dilaksanakan. Tertukarnya munisi atau menerapkan terhadap sasaran yang salah merupakan fatalitas yang mematikan.
Dalam satu check-point kecil yang di ampu oleh satuan sekelas team, biasanya mempunyai dua operator granadier yang menangani shotgun. Masing masing memiliki dua fungsi berbeda. Yang pertama adalah operator yang bersifat offensive, yang kedua adalah operator yang bersifat less-lethal. Dimana operator yang kedua ini lebih bertanggung jawab dalam memberikan "effective warning" berupa flares, maupun non-lethal burst granade rounds kearah kendaraan yang mendekat dari jarak 100 meter agar berhenti di check-point. Diharapkan dengan adanya ledakan dan sinar menyilaukan, kendaraan akan berhenti. Jika tetap tidak berhenti maka dalam range 30 meter ditembak dengan munisi anti-materiel.

Dirumah maupun dalam tugas, selain side-arm berupa pistol Kimber M-1911 cal.45 ACP, saya juga membawa shotgun. Lumayan... buat menakut nakuti tikus. (maaf bercanda !!)




Sumber;http://hhsamosir.blogspot.com/2008/09/military-shotgun.html#links

Surat Tanggapan ke Eramuslim

Dalam sebuah diskusi, seorang rekan mencantumkan sebuah wacana dari Eramuslim yang memaparkan berita tentang bagaimana penanganan di Afghanistan. Barangkali ada baiknya untuk dilihat sebagai berikut.
Eramuslim, Rabu, 24/02/2010 17:25 WIB
Tak Mudah Melumat Taliban

Janji Panglima Nato di Afghanistan, Jendral Mc Chrystal akan melumat Taliban dalam dua pekan tak terbukti. Pergerakan pasukan Nato di Helmand, yang masuk kota ke Marjah sangat lambat. Justru menunjukkan pengecutnya pasukan Nato, yang hanya mampu menggunakan tameng pasukan darat dan polisi Afghanistan, yang ada di garda paling depan menghadapi Taliban. Sementara pasukan Nato, yang terdiri dari marinir dari AS, hanya berlindung di balik tank dan kendaraan pengangkut personil.
 
Secara matematis pasukan Nato, yang digelar di propinsi Helmand itu, jumlahnya mencapai sepertiga atau lebih dari 35.000 pasukan. Dengan dukungan seluruh kekuatan dan persenjataan militer, seperti penyapu ranjau darat, halikopter black hawk, pesawat tempur F.16, dan pesawat tanpa awak (drone), yang terus mengelilingi kota Helmand, dan memuntahkan rudal, ke sasaran-sasaran yang diduga menjadi tempat markas Taliban. Mestinya hanya dengan hitungan jari tangan Taliban sudah punah. Semuanya itu tak terbukti.
Faktanya operasi militer yang menggunakan sandi `Mushtarak', yang dalam bahasa pashtun itu, berarti `bersama', justru yang banyak menjadi korban adalah penduduk sipil, yang terdiri wanita dan anak-anak, yang tidak berdosa. Pihak Nato selalu menuduh Taliban menggunakan penduduk sipil sebagai tameng, menghadapi serangan yang dilakukan pasukan Nato. Seperti ketika iring-iringan bus yang ditumpangi wanita dan anak-anak yang akan meninggalkan kota Marjah, diserang pesawat tempur tanpa awak (drone), yang menyebabkan 24 orang tewas.
Sudah berulang kali pasukan Nato yang menggunakan pesawat tanpa awak itu salah sasaran. Di perbatasan Pakistan-Afghanistan, terutama di Selatan Waziristan, Baluchistan, Boujur, dan Bahmian, tak semuanya yang menjadi korban adalah Taliban. Bulan September tahun 2008, justru yang menjadi korban, adalah anak-anak sekolah. Lebih dari 200 anak sekolah yang ada diperbatasan Pakistan, Selatan Waziristan, tewas oleh serangan pesawat tanpa awak.
 
Inilah sejarah pembataian yang dilakukan AS, sejak zaman Presiden Bush dan dilanjutkan oleh Presiden Barack Obama, terhadap rakyat sipil, di Pakistan, Afghanistan, dan Irak, mencapai eskalasi yang paling luas, dan mengerikan. Pembantaian yang tiada tara terhadap rakyat sipil, yang dilakukan oleh sebuah pemerintahan negara, yang mengaku menganut paham demokrasi, dan mengakui hak-hak sipil, seperti hak-hak dasar, termasuk hak untuk hidup. Justru Obama yang baru mendapatkan hadiah `Nobel Perdamaian', belum lama ini telah mempertontonkan kejahatannya di depan masyarakat dunia, yang tidak hentinya membantai rakyat sipil yang tidak berdosa.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat dengan penulis di Eramuslim, barangkali ada baiknya saya sampaikan pandangan yang nyata terjadi di Propinsi Helmand dan Kunar. Karena kebetulan pasukan saya yang menjadi motor disana dan menjadi daerah kerja saya.

1. Tujuan pasukan sekutu saat ini bukan untuk meremukkan atau melumat Taliban, justru untuk ditekan kembali ke kantung kantung resistansi pranata awal mereka. Hal ini selaras dengan kehendak Washington yang akan memasukkan kelompok Taliban kedalam anggota parlemen Republik Islam Afghanistan. Jadi sekali lagi bukan untuk dihancurkan total. Kaum Talib telah melakukan serangan ke basis oposisi Politiknya dan menggunakan event tersebut sebagai batu loncatan untuk menekan perhatian rakyat Afghan umumnya. Sehingga serbuan ke Helmand dan Kunar dimaksudkan untuk menghalau Talib kembali ke daerahnya guna menjamin stabilitas politik internal di Afghanistan.

2. Serbuan ke Marjah memang sedikit lambat karena banyaknya "kontingen lain" yang diwajibkan ikut dalam serbuan kali ini. Sebut saja dua bus penuh wartawan dan pengamat dari badan U.N yang keselamatannya harus dipertanggungjawabkan. Mengingat hampir tiap jengkal tanah ke Marjah di tanam IED maupun booby-traps berupa "bouncing-betty". Sehingga US Marine sebagai pasukan pathfinder Infantry menyisir tiap daerah dan memastikan aman bagi kendaraan pengangkut pasukan NATO lainnya.

3. Pasukan Pakistan dan tentara nasional Afghaistan memang merupakan bagian dari operasi ini. Perlu diingat kembali bahwa Washington meminta agar kepercayaan rakyat Afghan terhadap pemerintah Afghanistan tertata kembali dengan melihat terlibatnya pasukan pemerintah yang syah. Pula saya mengembangkan siasat senjata makan tuan. Dulu recruitment pasukan afghan banyak disusupi simpatisan Talib yang memberi informasi gerakan pasukan sekutu. Sekarang pasukan pemerintah Afghan berpakaian ala Talib dan berdiri diantara kaum Taliban sembari memberi umpan balik informasi (hum-int). Juga anggota pasukan Pakistan menyaru sebagai pemandu untuk menyeberangkan para Talib melalui khayber menuju Pakistan. Begitu kaum Talib melewati perbatasan mereka diringkus dan diserahkan kepada British Army untuk diidentifikasi dan dikembalikan ke daerah asal. Jika masih melakukan kerusuhan lagi dan terbukti maka akan dimasukkan daftar sasaran oleh sniper-team marinir.

British Army, 1st Royal Welsh Brigade

Taktik ini sangat jitu sehingga banyak kaum Talib yang terkecoh dan rasa saling tidak percaya mulai nampak dikalangan mereka sendiri yang akan melemahkan posisi mereka tanpa menimbulkan korban pihak sipil yang signifikan. Entah ini yang dikatakan sebagai pengecut.

4. Pasukan NATO di propinsi Helmand dan Kunar tidak hanya terdiri dari US Marine tetapi justru bulk pasukan terdiri dari US Army, British Army, Pakistan dan Pasukan pemerintah Afghan. US Marine hanya sebagian kecil dan bertindak sebagai pathfinder bagi pasukan NATO beserta combat-support-nya.
Khusus untuk Marjah serangan kami lakukan dengan gabungan dari US Army Stryker Brigade dan US Marine. Yang mana US Army membawa heavy armor berupa Tank M1A2 Abrams beserta APC (Armored Personnel Carrier). Sementara US Marine masih memakai sistem classic Infantry assault.

Saya adalah penganut Infantry tactic yang traditionalist. Sehingga gelar perang darat yang berintikan serangan cepat dan akurat hanya bisa diperoleh dengan ketepatan serangan oleh pasukan Infantry yang mobile yang memiliki akurasi tembakan.

Tidak berusaha menyombongkan diri, kebetulan pengalaman dari 4 serbuan besar mulai dari Battle of An-Nasiriyah, Battle of Al-Fallujah (Op. Al-Fajr), Ramadi kesemuanya di Iraq, hingga Lashkar-Gah (Afghan) dan baru baru ini di Marjah (Op. Moshtarak), saya selalu kebagian tugas sebagai komandan pasukan ujung tombak. Semuanya saya lakukan dengan pendekatan Infantry assault.
Tak kurang dulu seorang pemimpin spiritual terkenal di Iraq yaitu Muqtada "the Mookie" Al-Sadr terbirit birit lari Ke Iran dan tentara Mahdi-nya hancur dibabat pasukan saya hanya dengan 1 battalion Marinir di Battle of Najaf Iraq. Akibat perintah dari pusat, maka jepitan tidak diteruskan lebih lanjut karena Mr Mookie bersedia duduk di parlemen.

Sudah sejak sebulan lalu Marjah direbut oleh pasukan saya. Sekarang tanggung jawab telah diserahkan kepada Tentara Nasional Republik Islam Afghanistan dan kepolisian, yang di back-up oleh British Army.

US Marine in Op. Moshtarak

Heli EVAC

Army-Marine in Op. Moshtarak

5. Secara "matematis" (LOL) justru tidak lebih dari 18.000 yang asli US/British selebihnya adalah pasukan nasional Afghan.

6. Beberapa otak penting dibelakang insurgensi Taliban telah tertangkap seputar operasi Moshtarak. Yaitu
a. Mollah Abdul Ghani Baradar yang merupakan orang nomor 2 Setelah Mollah Omar,
b. Mollah Salam.
c. Hakimullah Mehsud (tewas).

Hingga saat ini di kedua propinsi konsentrasi Taliban telah berkurang jauh. Kebanyakan berbaur ke penduduk bahkan lari menyebrangi perbatasan menuju pakistan. Oleh sebab itu target tujuan utama telah terpenuhi yaitu Counter-Insurgency yang bertujuan melemahkan pasukan Talib dan memaksanya kembali ke kantung kantung awal mereka.

Jadi sekali lagi tujuan operasi ini justru tidak meremukkan Taliban, seperti halnya "al Mookie" dan pengikutnya di Sadr City tidak ditumpas habis. Melainkan dilemahkan agar tidak menjadi opressive dan menimbulkan jatuhnya korban sipil. Selebihnya diajak untuk menjadi bagian dari parlemen gabungan dalam Republik Islam Afghanistan.

Mohon maaf jika ada beberapa gambar membuat beberapa rekan muslim menjadi tidak berkenan.

Semper Fi,
Sumber;http://hhsamosir.blogspot.com/2010/03/surat-tanggapan-ke-eramuslim.html#links