Virus Shortcut Hantui Indonesia
Waspadai Virus Shortcut, Kenali Filenya
Wicak Hidayat - detikinet
Jakarta - Virus yang mengeksploitasi celah Shortcut pada Microsoft Windows sedang marak di Indonesia. Agar makin waspada, ketahui jenis-jenis file yang dilepaskan virus ini pada komputer korbannya.
Dari berbagai varian virus yang diketahui memanfaatkan celah pada file shortcut (.lnk) di Windows, Worm Vobfus adalah yang cukup pesat beredar di Indonesia. Menurut keterangan dari Vaksincom, yang diterima detikINET, Senin (11/10/2010), Vobfus alias Visual Basic Obfuscated ini memakai bahasa pemrograman Visual Basic serta memiliki ukuran yang bervariasi.
File Worm tersebut bisa dikenali karena biasanya akan menggunakan icon Visual Basic. Jenis filenya adalah aplikasi (.exe) atau screen saver (.scr).
Berikut adalah beberapa file yang akan dibuat Vobfus saat menginfeksi komputer:
C:\Documents and Settings\%user%\alg.exe atau x.exe (sistem operasi Windows 2000/XP/2003)
C\Documents and Settings\%user%\[nama_acak].exe (Windows 2000/XP/2003)
C:\User\%user%\alg.exe atau x.exe (Vista/7/2008)
C\User\%user%\[nama_acak].exe (Vista/7/2008)
Selain file-file di atas, Vobfus juga membuat beberapa file pada media penyimpanan eksternal. Nama yang digunakan adalah:
[nama_acak].exe
[nama_acak].scr
Kemudian, Vobfus akan membuat file Shortcut (.lnk) sesuai dengan nama folder yang disembunyikannya. Beberapa nama shortcut yang dibuatnya adalah:
Documents.lnk
Music.lnk
New Folder.lnk
Passwords.lnk
Pictures.lnk
Video.lnk
[nama_acak].lnk (lebih dari satu file)
Sumber;http://www.detikinet.com/read/2010/10/11/150746/1461310/323/waspadai-virus-shortcut-kenali-filenya/?i991102105
Don't Copy
Showing posts with label cyber. Show all posts
Showing posts with label cyber. Show all posts
Monday, October 11, 2010
Indonesia Kekurangan Ahli di Bidang IT
Indonesia Kekurangan Ahli di Bidang IT
Andrian Fauzi - detikinet
Bandung - Indonesia kekurangan sumber daya manusia (SDM) di bidang Informasi dan Teknologi. Padahal kebutuhan industri akan SDM IT sangat tinggi.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) Profesor DR Richardus Eko Indrajit di sela-sela Musyawarah Nasional Aptikom di Hotel Horison Bandung, Sabtu (9/10/10).
"Sekarang setiap 6 menit selalu ada teknologi baru yang muncul di dunia. Bahkan setiap hari ada satu juta serangan ke internet. Ini harus disikapi dengan penyediaan SDM IT yang handal," katanya.
Hal ini, imbuhnya, dikarenakan tidak adanya standarisasi profesi di bidang IT. Tidak seperti profesi lainnya yang memiliki standarisasi dan spesifikasi yang jelas.
"Sejauh ini kita belum memiliki profesi standar seperti halnya profesi kedokteran dengan spesialisasi yang jelas. Padahal di negara luar sudah lama standar profesi lulusan IT ini ada. Misalnya sarjana IT dengan spesialisasi pengamanan atau security IT dan lain-lain," ungkapnya.
Di tempat yang sama, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) Kemenkominfo RI, DR Cahyana Ahmadjayadi mengungkap bahwa menjawab permasalahan ini, pihaknya telah menggelar program beasiswa S2 dan S3. Selain untuk meningkatkan kualitas SDM, hal ini dilakukan untuk menjawab tantangan kebutuhan industri. Khususnya industri IT.
"Jumlah doktor di Indonesia masih sangat kurang. Cuma 25.000 saja. Ini masih sangat kecil jika dibanding dengan jumlah penduduk kita. Itu sebabnya kita buka program beasiswa untuk S2 dan S3 khusus buat bidang IT atau yang terkait dengan IT," katanya.
Masih kata Cahyana, pihaknya akan menjaring 100 orang dalam program tersebut. Kesempatan belajarnya pun tidak hanya di Indonesia. Beberapa universitas terkenal di dunia pun telah dihubunginnya guna mendukung program ini.
"Tidak hanya di Indonesia. Mereka (calon penerima beasiswa - red) bebas memilih mau sekolah di mana. Kebetulan kita telah berkomunikasi dengan universitas-universitas besar di dunia. Seperti di Eropa, Amerika, Australia ataupun di Jepang," jelasnya.
Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 730 perguruan tinggi komputer dengan jumlah program studi sekitar 1.600. Dari jumlah lembaga tinggi tersebut sekitar 170 perguruan tinggi berada di Jabar.
Sumber;http://www.detikinet.com/read/2010/10/10/074016/1460243/398/indonesia-kekurangan-ahli-di-bidang-it/?i991101105?topnews
Andrian Fauzi - detikinet
Bandung - Indonesia kekurangan sumber daya manusia (SDM) di bidang Informasi dan Teknologi. Padahal kebutuhan industri akan SDM IT sangat tinggi.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) Profesor DR Richardus Eko Indrajit di sela-sela Musyawarah Nasional Aptikom di Hotel Horison Bandung, Sabtu (9/10/10).
"Sekarang setiap 6 menit selalu ada teknologi baru yang muncul di dunia. Bahkan setiap hari ada satu juta serangan ke internet. Ini harus disikapi dengan penyediaan SDM IT yang handal," katanya.
Hal ini, imbuhnya, dikarenakan tidak adanya standarisasi profesi di bidang IT. Tidak seperti profesi lainnya yang memiliki standarisasi dan spesifikasi yang jelas.
"Sejauh ini kita belum memiliki profesi standar seperti halnya profesi kedokteran dengan spesialisasi yang jelas. Padahal di negara luar sudah lama standar profesi lulusan IT ini ada. Misalnya sarjana IT dengan spesialisasi pengamanan atau security IT dan lain-lain," ungkapnya.
Di tempat yang sama, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) Kemenkominfo RI, DR Cahyana Ahmadjayadi mengungkap bahwa menjawab permasalahan ini, pihaknya telah menggelar program beasiswa S2 dan S3. Selain untuk meningkatkan kualitas SDM, hal ini dilakukan untuk menjawab tantangan kebutuhan industri. Khususnya industri IT.
"Jumlah doktor di Indonesia masih sangat kurang. Cuma 25.000 saja. Ini masih sangat kecil jika dibanding dengan jumlah penduduk kita. Itu sebabnya kita buka program beasiswa untuk S2 dan S3 khusus buat bidang IT atau yang terkait dengan IT," katanya.
Masih kata Cahyana, pihaknya akan menjaring 100 orang dalam program tersebut. Kesempatan belajarnya pun tidak hanya di Indonesia. Beberapa universitas terkenal di dunia pun telah dihubunginnya guna mendukung program ini.
"Tidak hanya di Indonesia. Mereka (calon penerima beasiswa - red) bebas memilih mau sekolah di mana. Kebetulan kita telah berkomunikasi dengan universitas-universitas besar di dunia. Seperti di Eropa, Amerika, Australia ataupun di Jepang," jelasnya.
Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 730 perguruan tinggi komputer dengan jumlah program studi sekitar 1.600. Dari jumlah lembaga tinggi tersebut sekitar 170 perguruan tinggi berada di Jabar.
Sumber;http://www.detikinet.com/read/2010/10/10/074016/1460243/398/indonesia-kekurangan-ahli-di-bidang-it/?i991101105?topnews
SAMURAI CYBER LATIH INDONESIA CYBER DEFENSE
SAMURAI CYBER LATIH INDONESIA CYBER DEFENSE Jul 27, '10 12:37 AM
Para jawara keamanan cyber Indonesia mendapat tamu khusus beberapa waktu lalu, yakni kedatangan tamu ahli kemanan TI asal Jepang. Sang Samurai cyber pun melatih para jawara lokal.
IGN Mantra, Analis Senior Keamanan Informasi Internet Traffic Monitooring ID-SIRTII mengatakan, si Samurai Cyber kali ini memberikan pelatihan gratis dalam bentuk training bertajuk 'Malware Analysis Training' di ID-SIRTII.
Mereka yang dilatih berasal dari berbagai institusi penting di Indonesia seperti dari kepolisian RI, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Internet Service Provider dan para peneliti kampus.
Siapakah si Samurai Cyber ini? Dia adalah Takayoshi Shiigi, Manager dan Analis Senior dari Analysis Center JPCERT/CC yang sudah bekerja di bidang cyber security selama 13 tahun.
Shiigi mengatakan bahwa orang Indonesia sangat mudah untuk diajak bekerja sama dan cepat mengerti dalam menggali ilmu-ilmu analisis malware. "Seberat apapun materi yang diberikan, orang-orang Indonesia tetap bertahan dan ingin menguasai ilmu-ilmu pertahanan cyber ini," kata Mantra, menggambarkan penilaian Shiigi.
Keisuke Kamata, Deputy Director of Global Coordination Division JPCERT/CC juga mengatakan, sepertinya analisis malware adalah ilmu baru bagi orang-orang Indonesia. Makanya mereka begitu antusias untuk dapat menguasainya.
Memang di Jepang, ilmu analisis malware sudah dipelajari di bangku kuliah sejak beberapa tahun lalu. Sementara penelitian di Jepang untuk bidang malware jauh lebih dalam untuk menangkis berbagai serangan cyber hacking.
"Kamata dan pemerintah Jepang sangat fokus terhadap berbagai penelitian dan pekerjaan menangkis serangan cyber hacking termasuk berbagai malware yang dikirim dari negara-negara lain, sehingga perlu kerja sama lebih lanjut dengan negara lain yang ingin bersama-sama menghalau serangan cyber," tutur Mantra.
Pemerintah Jepang pun berjanji akan memberikan berbagai pelatihan gratis bidang cyber security dan instruktur terbaik kepada putra putri Indonesia yang memang ingin fokus untuk memperkuat pertahanan informasi negara Indonesia baik sekarang dan di masa-masa yang akan datang.
(ash /fw DETIKINET)
Para jawara keamanan cyber Indonesia mendapat tamu khusus beberapa waktu lalu, yakni kedatangan tamu ahli kemanan TI asal Jepang. Sang Samurai cyber pun melatih para jawara lokal.
IGN Mantra, Analis Senior Keamanan Informasi Internet Traffic Monitooring ID-SIRTII mengatakan, si Samurai Cyber kali ini memberikan pelatihan gratis dalam bentuk training bertajuk 'Malware Analysis Training' di ID-SIRTII.
Mereka yang dilatih berasal dari berbagai institusi penting di Indonesia seperti dari kepolisian RI, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Internet Service Provider dan para peneliti kampus.
Siapakah si Samurai Cyber ini? Dia adalah Takayoshi Shiigi, Manager dan Analis Senior dari Analysis Center JPCERT/CC yang sudah bekerja di bidang cyber security selama 13 tahun.
Shiigi mengatakan bahwa orang Indonesia sangat mudah untuk diajak bekerja sama dan cepat mengerti dalam menggali ilmu-ilmu analisis malware. "Seberat apapun materi yang diberikan, orang-orang Indonesia tetap bertahan dan ingin menguasai ilmu-ilmu pertahanan cyber ini," kata Mantra, menggambarkan penilaian Shiigi.
Keisuke Kamata, Deputy Director of Global Coordination Division JPCERT/CC juga mengatakan, sepertinya analisis malware adalah ilmu baru bagi orang-orang Indonesia. Makanya mereka begitu antusias untuk dapat menguasainya.
Memang di Jepang, ilmu analisis malware sudah dipelajari di bangku kuliah sejak beberapa tahun lalu. Sementara penelitian di Jepang untuk bidang malware jauh lebih dalam untuk menangkis berbagai serangan cyber hacking.
"Kamata dan pemerintah Jepang sangat fokus terhadap berbagai penelitian dan pekerjaan menangkis serangan cyber hacking termasuk berbagai malware yang dikirim dari negara-negara lain, sehingga perlu kerja sama lebih lanjut dengan negara lain yang ingin bersama-sama menghalau serangan cyber," tutur Mantra.
Pemerintah Jepang pun berjanji akan memberikan berbagai pelatihan gratis bidang cyber security dan instruktur terbaik kepada putra putri Indonesia yang memang ingin fokus untuk memperkuat pertahanan informasi negara Indonesia baik sekarang dan di masa-masa yang akan datang.
(ash /fw DETIKINET)